Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)
(Hadits ke-15 Arbain Nawawi)

Kita semua pasti maklum bila kurang begitu memperhatikan hadits ini. Karena bagaimanapun, setiap tamu memang seyogyanya harus dimuliakan. Tetapi hari ini, seperti biasa, dalam rangka perjalanan ‘mencari karunia-Nya”🙂 , penulis baru menyadari dan merasakan sendiri bagaimana rasanya sebagai seorang “tamu yang tidak dimuliakan”. Akibatnya sulit sekali menghindari ungkapan kekecewaan, kata-kata kotor dan do’a-do’a yang menjurus ke arah (maaf) keburukan. Padahal niat awal hanyalah silaturrahim, berhubung ada waktu luang yang memungkinkan untuk bertamu. Kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Bila kita sering mendengung-dengungkan do’a orang-orang tertindas, bagaimana dengan dampak do’a dari tamu yang tidak dimuliakan? Wallahu a’lam.
Akhirnya, tulisan ini tak lebih hanya sebagai nasehat terhadap diri penulis sendiri, bahwa setiap tamu harus dimuliakan.

Genghis Khun