ORBIT; adalah nama sebuah majalah Iptek untuk anak-anak. Baru pertama kali mendengar namanya ketika kantor MER-C meminta penulis mewakili sebagai narasumber untuk wawancara.



Tampilan gambar dikecilkan. Klik untuk melihat lebih jelas.
Ini adalah wawancara ketiga dengan media massa, setelah beberapa tahun lalu diwawancarai dua kali oleh Radar semarang, group Jawa Pos:
1. Waktu masih mahasiswa tentang pendirian MER-C Cabang semarang; sebagai pendiri MER-C semarang.
2. Sehabis manggung dengan IDI band pimpinan dr. Herman, sp. OG di acara Halal Bihalal IDI 2004 Jawa Tengah. Diwawancara sebagai gitaris IDI yang “sayatan melodinya munghunjam kalbu”๐Ÿ™‚
(sayang filenya tidak ada, semoga om google bisa membantu…)

Sebelum wawancara, seperti biasa penulis mewawancarai lebih dulu si pewawancara (mbak Ridha, redaksi majalah ORBIT); Mengapa memilih dokter dari MER-C?

Ternyata Mbak Ridha dan banyak kalangan menganggap bahwa para relawan MER-C terutama dokternya adalah orang-orang yang tidak biasa, dalam arti tidak seperti dokter lain yang lebih memilih duduk nyaman dibelakang meja prakteknya yang nyaman. Sampai tahap ini penulis masih belum mengerti maksud hal TIDAK BIASA tersebut. Karena dokter yang berkutat di LSM tidak hanya di MER-C tetapi juga di LSM lain, bahkan LSM internasional seperti Medicines San F*******. Tetapi kemudian penulis menemukan jawabannya; bahwa para dokter di MER-C terikat oleh kesamaan visi dan misi. Para relawan ini bekerja sukarela, benar-benar sukarela, dan menyadari bahwa dirinya mungkin tidak diGAJI oleh LSM. Ini yang membedakan!

Pantas saja dulu, sewaktu mengupayakan pendirian LSM ini, ada seorang residen bedah (PPDS Undip) yang berkata;
“MER-C itu kumpulan orang sinting, lha kalau pergi mbantu orang lain, keluarganya yang ditinggal dikasih makan apa??”
Ucapan ini masih terngiang-ngiang ditelinga penulis (entah saking berkesannya ataukah halusinasi auditorik๐Ÿ˜› )

Orang-orang yang berhitung untung rugi seperti residen di atas, yaitu membantu orang tanpa pamrih dihitung RUGI, mungkin tidak menyadari adanya Tangan Tuhan di balik …(Flu Burung eh salah). Mereka lupa bahwa rezki (dan jodoh๐Ÿ™‚ ) sudah ada kepastian.

Tidak digaji tentu saja dalam even-even insidental, diluar itu para dokter MER-C tetap beraktifitas seperti biasa, agar dapur tetap mengepul. Lho? berarti intinya sama saja donk??
Jawabannya silahkan baca di bagian “Bukan Gratis tapi di bayar Murah”.
Klinik-klinik MER-C diluar even tertentu (misalnya bencana alam, kerusuhan, perang dll) tarif untuk berobat rawat jalan terhitung murah (Padahal harga obat sebenarnya sih juga murah). Klinik ini berusaha “tampil” rasional tanpa adanya campur tangan bonus dan paket dari penyedia obat (misalnya paket 1000 pasien per bulan untuk obat X, dokternya dapat mobil hehe..sstt rahasia lho)
============================

Karib penulis, seorang penyihir jahat sebut saja Deden (hehe maaf bercanda Den), di kesempatan ini juga muncul, perhatikan kalimat di paragraf penutup;
…teman dokter yang dibuang di daerah kering di Sampit. Di blognya teman itu menulis: “Almamater saya tak menjual ilmunya pada mahasiswa”……….

Tulisan lengkap beliau silahkan klik di sini (Klik dari referensi blog ini dapat komisi berapa pak? bayar kontan ya hehe..)

penulis sengaja menyitir tulisannya sebagai PROTES atas makin tak terkendalinya biaya perguruan tinggi. (Eh maaf, biaya kuliah sebenarnya ada kendalinya ndak ya? maksudnya maksimal setara berapa kali gaji terendah PNS gitu…atau maksimal setara dengan 25 dinar-kah? atau maksimal setara 10 ton beras?? atau maksimal seenak perut??๐Ÿ™‚

Sekali lagi, penulis pada waktu kuliah tidak menganggap bahwa almamater menjual ilmu. Bravo Undip!

PS.
Majalah ORBIT tersedia di toko buku Gramedia