Malam pertama di Jakarta setelah berbulan bulan tinggal di bagian timur Indonesia, ada kesedihan menyeruak tatkala mendongakkan wajah menghadap langit.

Langit yang penuh asap…
Kapan lagi bisa tadabbur langit?
menyapa bintang dan rasi sambil menyebut namanya adalah hobby penulis akhir-akhir ini.
Hai Sirius..!
Hai Perahu Argonavis…!
Castor Pollux..dll
Kapan lagi?
Seorang sejawat bahkan benar-benar tidak bisa melihat langit, hanya tampak lampu-lampu billboard.

Harta itu makin tenggelam oleh efek dari kemajuan peradaban. Polusi asap yang merajalela (& polusi lampu?). Hanya satu harapan penulis, yaitu semoga ayat ini tidak mubazir:

“…dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk”.(Q.S. An Nahl: 16)
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Q.S Al An’aam: 97)

Bagaimana dengan daerah anda?

Genghis Khun