Manado, 23 Maret 2008
“Jujur saja, aku gak kenal sama perempuan yang akan menjemput kita di sini. Wajahnya juga gak tahu. Aku kenal dia lewat internet”
Demikian penjelasan penulis kepada Teh Is (Panggilan akrab Islamiyah, Staf kantor MER-C Jakarta) sewaktu pesawat Merpati CASA Galela-Manado mendarat di bandara Sam Ratulangi Manado.
“Ya ampuun..!” balasnya

Di tempat pengambilan bagasi penulis mulai mengabari “sang penjemput” via handphone.
“Wa’alaikum salam, iya saya sudah di depan dok, di depan tempat bagasi memakai baju biru”.

Setelah barang-barang sudah ditemukan, segera saja penulis keluar. Di luar ada sesosok berjilbab langsung tersenyum kepada penulis.
“Ini pasti dia” pikir penulis.
Penulis dan Teh Is langsung menyapa dan ternyata benar. di situlah tempat perkenalan pertama kami di dunia nyata. D***, Akhawat murah senyum dari FK Unsrat angkatan 2005 yang berkenalan di internet gara-gara sesama arema bonek (arek Malang bondho nekat; anak kota Malang modal nekat😛 ). Kami segera akrab dengannya.

Rencana kemudian mencari penginapan dua kamar untuk Teh Is dan penulis. Tetapi penginapan 1 kamar ini nantinya dibatalkan oleh Teh Is kerana memutuskan numpang di kost-an D***. Dari bincang-bincang selanjutnya terkuak bahwa D*** ini kenal dan bertetanggaan dengan si sibermedik
, “teman dunia nyata” Teh Is dan “teman dunia maya” penulis. Betapa sempitnya dunia….

Malam hari kami jalan-jalan di sepanjang keramaian manado. Menikmati hidangan Sari laut (Cumi asam manis, cumi goreng dan Ikan goreng). setelah itu mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke jawa.
penjemputan-manado.jpg

Genghis Khun

PS.
Tarif angkot jauh dekat Rp. 1750,- dan akan makin naik (baca di BUDAK-BUDAK EKONOMI)
Aba-aba turun dari angkot bukan “Kiri!” tetapi “Muka!”