“I shall return”
Ini adalah ucapan terkenal jenderal Douglas Mac Arthur saat terdepak mundur dari Filipina awal meletus Perang Dunia II.
Namun kemudian sekutu berhasil merebut lagi pulau-pulau yang diduduki Jepang; mulai dari tepi utara Papua, Biak, kemudian Morotai. Dari Morotai inilah pos komando sang Jenderal sampai dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

==
morotai-animasi.gif
Pulau Morotai

Kalimat yang sama diucapkan oleh penulis setahun yang lalu (februari 2007) ketika meninggalkan pulau ini.
Hari ini (Sabtu, 16 Februari 2008) penulis menginjakkan kaki untuk yang kedua kali di pulau yang lebih dikenal baik oleh sekutu (negara barat) daripada kebanyakan warga Indonesia sendiri.(Tidak percaya? silahkan googling dengan kata kunci “morotai”)
Bila misi kunjungan yang pertama adalah “Napak Tilas Jejak Ayah”, maka kali kedua ini adalah “Jalan-jalan”?. Berbeda dengan perjalanan pertama, di perjalanan kedua ini penulis tidak lagi terlalu antusias untuk segera melihat peninggalan PD II, karena hampir semua rongsokan sudah hilang dipreteli menjadi besi tua. Tank-tank, jeep, meriam-meriam anti pesawat dan sebagainya hanya tinggal kenangan.
Berangkat bersama rombongan tim survey yang dikepalai oleh seorang kepala dinas pemerintahan di kab. Halmahera Utara. Berbeda dengan kedatangan sebelumnya, kali ini penulis cukup bonek botheng (bondho nekat & bondho wetheng, modal nekat & modal perut). Dari Tobelo (ibukota kab. Halmahera Utara, koordinat 1°44?N, 128°00?E) naik speed (speed boat), dengan biaya Rp. 50.000,- (setahun yang lalu 35.000 dan akan naik terus, baca di sini), perjalanan laut ini memakan waktu sekitar satu setengah jam. Tiba di pelabuhan Daruba (ibukota p. Morotai koordinat 2°03?N, 128°13?E) sekitar pukul 13:30 WIT.

Seperti biasa rombongan pejabat, entah survey pribadi atau dinas, semua telah di atur rapi, mulai dari penjemputan & persiapan untuk perjalanan selanjutnya.
Penjemputan dengan sepeda motor, menuju penginapan. Ternyata tempat penginapan yang sama dengan yang ditempati penulis setahun yang lalu, dan kamar untuk penulis pun sama!
Setelah menaruh tas di penginapan, rombongan melanjutkan menuju Desa Tiley (koordinat 2°11.5’N, 128°15’E) naik perahu kecil 2 mesin, karena jalan darat masih belum bagus.

Setengah jam kemudian menyebrang ke pulau Gele-Gele Besar (koordinat 2°12’N, 128°17.5’E) untuk melihat budidaya mutiara milik Hj. Fatma yang baru dikembangkan sejak Mei 2007 seluas 37 Ha. Luar Biasa…, penulis berdecak kagum melihat gedung-gedung yang baru dibangun. Ini pasti akan menyerap banyak tenaga kerja, pikir penulis.
Di sini ada kejadian menarik, penulis benar-benar telah lupa bahwa sebenarnya pernah bertemu dengan Hj. Fatma! (Benar-benar pikun…), yaitu sesaat sebelum beranjak meninggalkan penginapan setahun yang lalu, karena ternyata bu Fatma adalah pemilik tempat penginapan tersebut yang waktu itu kebetulan datang saat penulis hendak pulang.
budidaya-mutiara-p-gele-bsr.jpg
Tempat budidaya mutiara H.Fatma

Menjelang senja rombongan pulang lagi ke Daruba. Sepanjang perjalanan ditemani oleh sang surya yang beranjak tenggelam (sunset) disela-sela gugusan pulau Gele-Gele Kecil, Loleba, Galo-Galo Besar, Galo-Galo Kecil, Dodola, burung-burung laut yang kembali ke sarang, langit senja dengan rembulan hampir penuh. .(sayang tidak bertemu lumba-lumba). Hmm sunset yang indah dari perairan yang terkenal dengan taman lautnya.
Selesai mandi di penginapan, rombongan dijamu makan malam oleh seorang kerabat; ikan guruba dan mubara bakar (nyam nyam lezat…).

Minggu, 17 Februari 2008

Hari ini perjalanan memasuki pedalaman pulau Morotai menuju daerah SP2 Transmigran (SP2=Satuan Pemukiman 2, koordinat 2°09’N, 128°19’E) dengan waktu tempuh sepeda motor kira-kira 2 jam dari kota Daruba. Setiba di SP2 dilanjutkan berjalan kaki sejauh 4 km memasuki hutan untuk mengabadikan gua-gua bekas persembunyian tentara Jepang masa PD 2. Selain itu juga menginventarisir peninggalan yang masih bisa diselamatkan seperti beberapa peluru aktif, topi baja dan 2 buah mortar.
goa-jepang.jpg
Goa Jepang yang tertutup longsoran, diduga didalamnya masih banyak senjata dan amunisi (juga emas?)

Menjelang siang kembali lagi ke Daruba untuk kemudian menyusur ke timur menuju tanjung Deheg Ila. Mengabadikan pantai-pantai yang cocok untuk promosi wisata. Maklum Morotai akan segera menjadi kabupaten baru…
Agak sore menyempatkan menjenguk 2 buah rongsokan amfibi yang terletak di areal perkebunan kelapa milik salah satu penduduk.
amfibi.jpg
Secara keseluruhan, perjalanan kali ini benar-benar memuaskan dibanding kunjungan pertama penulis.
tim-napak-tilas.jpg
Tim napak tilas

perjalanan-morotai.jpg