Flash back 09 Desember 2007:
Seluruh astronom tau bahwa saat itu Moonset terjadi lebih dulu kemudian disusul sunset.
Anehnya ada kesaksian di Saudi Arabia yang mengklaim telah melihat crescent.
Bodo-bodone; kalo si A loncat ke laut lebih dulu lalu disusul si B. Apakah masuk akal bila ada yang mengklaim melihat si A belum loncat??

Akhirnya, dengan ‘terpaksa’ 1 Dzulhijah = 10 Desember 2007.
Oleh karena itu kemarin sebagian saudara kita ada yang melakukan shalat Id hari rabu, 19 desember 2007.

8 Januari 2008. Program Accurate Times menyatakan bahwa ijtima’/ konjungsi terjadi pada jam 11:37 GMT atau 14:37 waktu Saudi (atau 18.37 WIB). Menurut Odeh:
The Crescent Visibility is: Not Visible Even With Optical Aid.
Jadi di saudi tidak mungkin bisa terlihat crescent, kecuali ada kesaksian palsu (lagi?).
Meskipun demikian, Saudi atau saudara-saudara kita di Ind yang kemaren shalat Id tgl 19 Des 07 berkonsekuensi; besoknya (9 Jan 08) sudah HARUS masuk 1 Muharram karena tidak mungkin Dzulhijah 31 hari(?)
Jadi harus ada kesaksian palsu (lagi)

==
Secara astronomis tidak mungkin 1 Muharram=9 Jan 08 di Arab Saudi.
==

Bila di Saudi 1 Muharram HARUS 9 jan 08, di Indonesia golongan Muhammadiyah yang mengandalkan hisab & wujudul hilal sudah pasti 1 muharram= 10 Jan 08. Sedangkan NU mesti menunggu hasil ru’yat tgl 9 Jan dulu.
Visibilitas daerah Indonesia 9 jan’08 berdasarkan ODEH;
Could Be Seen By Naked Eye; selisih 11° crescent sudah tinggi saat sunset. Tetapi bisa tak terlihat/ tertutup (mendung?)

==

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa secara astronomis 1 dzulhijah= 10 des’07 tidak berdasar.
Konsekuensinya pelaksanaan haji kali ini TIDAK SAH? Sejauh ilmu pengetahuan saat ini tidak sah, tetapi Wallahu a’lam.
Atas nama astronom amatir, penulis mengucapkan bela sungkawa terhadap jutaan jama’ah.
Tidak bermaksud memperumit keadaan, tapi memang demikianlah kenyataannya.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1429

Genghis Khun

Rujukan:
1. Http://isnet.org/t_djamal/2007/12/12/saudi-bikin-masalah-lagi/index.html
2. Program accurate Times